Kamis, 02 Januari 2014

Melawan mindset negatif, mengubah jadi trendsetter

Merdeka.com - Baru saja kita merayakan pergantian tahun 2013 menjadi 2014. Kebiasaan orang kebanyakan, merayakan pergantian dengan melek menunggu pukul 00.01 dan membunyikan terompet. Setelah itu, beberapa saat kemudian tidur. Dan, tidak menyempatkan melihat matahari pagi pertama kali muncul (sunrise) sebagai tanda aktivitas pertama jagat raya.

Menarik membaca pengalaman orang kreatif Yoris Sebastian dalam bukunya "101 Creative Notes", dimana selama bertahun-tahun dia merayakan tahun baru di cafe dan hotel, pulang pukul 3 dini hari. Namun, pada 2010 dia mengubah kebiasaan: tidur sore dan berangkat ke Borobudur jam 3.00 dini hari. Kesannya, sensasi luar biasa dan berhasil menyaksikan matahari pertama dari balik stupa candi yang sohor.

Saat ini, banyak orang mengikuti gayanya. Meski tidak sebanyak orang kebanyakan, tapi memilih memulai tahun baru dengan melihat sunrise.

Apa yang dilakukan di atas, adalah bagian dari upaya untuk melawan arus kebiasaan. Menciptakan suasana yang tidak biasa (unusual). Banyak dalam bisnis, ketika situasi dikepung oleh kebiasaan dan pandangan umum, ketika ada yang berani membuat gebrakan melawan arus, justru sukses. Bahkan menjadi trendsetter atau pioner bagi pihak lain.

Apa yang Anda bayangkan tentang panti pijat? Bagi sebagian besar akan mengasosiasikan dengan remang-remang, dan XXX. Tapi di saat semua berpikir negatif, Bersih Sehat mengubah mindset negatif. Dengan desain panti yang terbuka, sekat yang mudah didengar antarsatu bilik dengan yang lain, maka malah jadi tempat mengembalikan kesehatan keluarga. Banyak suami istri datang ke situ, tanpa malu dicap miring. Tak ayal bila Bersih Sehat jadi trendsetter dan diikuti beberapa.

Dulu, sekitar 10 tahun imej karaoke juga negatif. Bahkan, kita ingat banyak operasi karaoke oleh pemda atau kepolisian. Tapi, sekarang mungkin tidak. Karaoke menjadi tidak risih lagi bagi banyak masyarakat kita, setelah Inul Vista yang milik penyanyi Inul Daratista menggebrak dengan slogan: family karaoke.

Setiap hari, terutama di akhir pekan, pada Jumat malam kita bisa saksikan banyak pemuda-pemudi selepas jam kantor merangsek ke karaoke keluarga. Nyanyi bersama, enjoy bersama, tanpa takut cibiran miring. Sehingga dengan bebas, bicara di tempat terbuka, "karaoke yuk!". Memang bukan hanya Inul Vista, ada karaoke lain seperti NAV, Happy Puppy, dan sebagainya membawa brand karaoke keluarga, dan hidup.

Masih di soal mindset negatif. Kebanyakan, hotel kelas melati (bintang 3) beberapa ada yang mengasosiasikan sebagai tempat mesum. Apalagi dengan dibukanya tarif 6 jam, maka akan identik dengan sesuatu yang negatif. Meski sebenarnya beberapa hotel transit biasa membuka tarif untuk 6 jam karena tamu biasanya cuma singgah sebentar istirahat untuk melanjutkan perjalanan berikutnya.

Meski tidak semuanya negatif, tapi terobosan untuk melawan hotel melati itu miring, dilawan (challenge) oleh Hotel Sofyan, Jakarta. Begitu melihat hotelnya tidak ada kemajuan berarti, manajemen hotel tersebut berani mengubah mindset sebagai hotel bersih: no alcohol, no women, no pork menu. Maka, disebutnya sebagai hotel syariah.

Di luar sangka, tingkat hunian yang semula di bawah 50-an, rata-rata per bulan 80%. Apa yang dilakukan oleh manajemen Hotel Sofyan itu akhirnya mengilhami banyak pemilik hotel. Dengan memberikan label syariah, mereka membuat tamu merasa aman. Terutama pasangan suami istri, akan nyaman dan bebas dari dugaan miring.

Beberapa hotel yang mengikuti hal ini, untuk wilayah Jakarta antara lain Hotel Alia Cikini, Hotel Pasar Baru, Hotel Senen, Hotel Kalisma, Hotel Alma. Di Medan kita bisa dapatkan hotel syariah yakni Hotel Madani.

Di Bandung lebih banyak, antara lain Orange Home, Daarul Jannah, MQ Guest House, Ahadiat Hotel & Bungalow, Flores Syariah Villa, dan Setra Priangan Guest House dan lain-lain. Di Surabaya yang mengusung konsep syariah adalah Walan Hotel, Walisongo, dan Hotel Kalimas.

Rata-rata omsetnya, seperti halnya Sofyan Hotel Betawi yang melonjak, rata-rata hotel ini juga mengalami kenaikan pendapatan yang signifikan. Dengan cara ini pula mereka bisa menghadapi gempuran hotel berbintang 4-5 yang segalanya menarik bagi konsumen, yang susah ditandingi pemain hotel kelas melati.

Berkaca dari kenyataan-kenyataan di atas, selalu ada upaya untuk melawan kebanyakan. Tidak perlu takut melawan mindset negatif dan menghadapi hegemoni bisnis dengan modal besar. Selalu ada jalan bagi orang-orang kreatif dengan membuat model-model yang semakin kompetitif. Selain dengan cara syariah, bungkus lain adalah dengan membuat hotel boutique yang mengabaikan kelas (bintang).

Anda punya ide untuk membuat bisnis yang melawan arus dengan mengubah mindset yang sebaliknya? Silakan mencoba dan membuktikannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar