Senin, 16 Desember 2013

7 startup Asia Tenggara yang berusaha membantu masyarakat kurang mampu

Ketidaksetaraan sosial adalah masalah besar bukan hanya di Indonesia, tapi juga di sebagian besar atau bahkan seluruh Asia Tenggara (kecuali mungkin Singapura). Bentuk ketidaksetaraan yang terjadi antara lain banyaknya populasi yang tidak mendapat akses pendidikan yang layak, buruknya kondisi ekonomi, dan kurangnya lapangan pekerjaan. Dan meskipun startup teknologi berusaha untuk menguasai semua sektor industri, mereka umumnya hanya menangani masalah di wilayah maju atau First-World problems.
Salahkan kondisi ekonomi: startup adalah perusahaan yang mencari keuntungan dan berusaha memaksimalkan apa yang bisa diberikan tiap pelanggannya, sementara masyarakat yang tinggal di daerah pedalaman (contohnya di wilayah Indonesia) tidak bisa memberikan apa-apa kepada startup. Karena itu, startup cenderung mengabaikan masyarakat kurang mampu.
Meskipun demikian, ada beberapa perusahaan internet di Asia Tenggara yang mencari kesempatan di daerah pedalaman dan pinggiran. Berikut adalah beberapa startup tersebut:

8villages (Singapura)

farmers-ftw1
8villages menghubungkan petani dengan pelaku agrobisnis melalui platform-nya untuk memperbaiki alur informasi antara semua pihak yang terlibat dalam agrobisnis ini. Platform ini memungkinkan pelaku agrobisnis berkomunikasi dengan petani di daerah pedalaman melalui feature phone petani tersebut. 8villages baru saja mendapatkan convertible note pra-pendanaan sebesar USD 150.000 dari IMJ Fenox.
Saat ini 8villages memiliki jejaring sosial untuk petani di Indonesia bernama Lisa. Startup ini sendiri sekarang bekerjasama dengan tiga perusahaan telekomunikasi di Indonesia, yakni Telkomsel, Indosat, dan Smartfren.

Sustainable Living Lab (Singapura)

ibam-720x537
Perusahaan ini, biasa disebut dengan singkatan SL2, adalah perusahaan sosial yang mendidik masyarakat mengenai kemiskinan, isolasi sosial, dan penurunan kondisi lingkungan melalui kelas-kelas. Makerspace-nya di Singapura memiliki printer 3D, laser cutter, dan mesin CNC (Computer Numerical Control). Perusahaan ini juga menjual produk hijau yang dibuat dari bahan yang tahan lama. Salah satu contohnya adalah iBam, amplifier iPhone yang diproduksi berkat bantuan pengrajin di desa Indonesia.

Netwon Circus (Singapura)

Perusahaan sosial ini menjalankan proyek yang berkolaborasi dengan perusahaan internasional untuk membuat teknologi yang bisa memberikan dampak sosial. Newton Circus baru saja memulai kampanye crowdfunding untuk membuat handphone yang bisa dan mudah digunakan oleh para lansia di Singapura. Proyek terakhir dari perusahaan ini adalah Mobile Movies, yang mengelola pertunjukan film di daerah pedalaman, dan menggunakan pertunjukan tersebut sebagai kesempatan untuk mendidik masyarakat mengenai kebersihan dan pengetahuan finansial. Proyek tersebut juga menjadi channel pemasaran untuk produk-produk yang bermanfaat secara sosial seperti lampu dengan tenaga matahari.

BagoSphere (Filipina, Singapura)

Didirikan oleh Zhihan Lee, Ellwyn Tan dan Ivan Lau, BagoSphere adalah perusahaan dari Bago City di Filipina yang memiliki mandat mengajak anak muda untuk bekerja di industri Business Process Outsourcing (BPO) senilai USD 13 miliar – seperti menjadi karyawan call center – dengan cara memberikan mereka pelatihan. Dengan membantu mitra-mitranya mendapatkan pegawai dari pusat pelatihan, perusahaan ini berharap untuk bisa mengurangi tingkat kemiskinan di daerah terpencil di negara ini. BagoSphere dibantu oleh Kickstart Ventures.

Kalibrr (Filipina)

Tugas startup ini mirip dengan BagoSphere: membantu para pencari kerja mendapatkan pekerjaan di industri BPO, tapi pendekatannya berbeda. Jika BagoSphere membuka pusat pelatihan, Kalibrr membuat platform pelatihan online dan situs perekrutan untuk pelamar dan perusahaan BPO.
Didirikan oleh Paul Kalibrr Rivera dan Dexter Ligot-Gordon, Kalibrr berhasil menarik perhatian banyak investor, antara lain Kickstart Ventures yang berinvestasi sebesar USD 100.000 dan juga USD 1,9 juta dengan melibatkan Omidyar Network (perusahaan investasi yang didirikan oleh seorang co-founder eBay) dan masih banyak lagi. Perusahaan ini juga diterima oleh akselerator terkenal Y Combinator.

Milaap (Singapura, India)

milaap
Milaap adalah situs peminjaman mikro dimana tiap orang bisa memberikan pinjaman mikro ke masyarakat di India. Pinjaman tersebut, yang memiliki tingkat bunga dari 12 hingga 18 persen, kemudian diadministrasikan oleh mitra lokal yang terpercaya. Situs ini dibuat oleh Sourabh Sharma, Anoj Viswanathan, dan Mayukh Choudary di tahun 2010 dan sudah memberikan pinjaman sebesar USD 800.000 kepada 25.000 orang di India. Perusahaan ini telah menerima investasi sebesar USD 1,1 juta yang dipimpin oleh Jungle Ventures dan juga investasi awal sebesar USD 250.000.

One Cent Movement (Singapura)

Startup ini menciptakan plugin Google Chrome yang membuat pembeli e-commerce membulatkan biaya pembeliannya (misalnya dari USD 30,75 menjadi USD 31) dan mendonasikan selisihnya untuk tiap USD 10 yang terkumpul. Plugin ini didukung oleh Amazon dan Zalora.

Apakah Indonesia melewatkan kesempatan besar?

Catatan editor: Dengan membaca sekilas, Anda mungkin sudah menemukan sebuah fakta: tak satupun dari startup tersebut yang berasal dari Indonesia. 8villages dan Sustainable Living Labs merupakan dua perusahaan yang berasal dari negara tetangga dan mereka dapat memberikan dampak bagi masyarakat miskin di Indonesia. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa sampai bulan Maret lalu, jumlah penduduk kurang mampu di Indonesia mencapai angka 28 juta orang. Kami mengharapkan akan ada banyak perusahaan yang rela mengeluarkan uang agar dapat menjangkau beberapa persen dari masyarakat tersebut.
Berita baik (dan buruknya) adalah tidak banyak startup teknologi yang sudah masuk ke area ini. Masih banyak peluang bagi startup untuk menjadi salah satu pemain awal dan mendapatkan keuntungan dari hal ini, tapi tantangannya ialah menjangkau mereka yang masih buta teknologi.
Dan lagi, memperkenalkan manfaat dan penggunaan teknologi kepada masyarakat kurang mampu bisa menjadi investasi jangka panjang untuk membangun ekosistem startup di Indonesia.

Keterangan: 8villages didanai oleh IMJ Fenox, yang terhubung dengan investor Tech in Asia, Fenox VC, sehingga kami secara tidak langsung punya hubungan dengan 8villages. Anda bisa membaca kode etik kami di sini.
(Sumber gambar atas: Feed My Starving Children)
(Diedit oleh Yasser Paragian dan Enricko Lukman)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar