Sabtu, 01 Maret 2014

10 Start-up Teratas Indonesia

Indonesia semakin dianggap penting oleh perusahaan teknologi kelas kakap dunia. Menurut data dari perusahaan riset IDC, Indonesia memiliki lebih dari 30 juta pengguna Internet. Sementara Nielsen mencatat penetrasi pengguna telepon seluler mencapai 78%. Indonesia adalah pasar utama bagi situs media sosial seperti Facebook, Twitter, dan YouTube. Bahkan, Google membuka kantor perwakilan di Jakarta Maret tahun lalu.
Perusahaan start-up garasi yang berfokus pada isu teknologi mencoba mencuri potensi besar di pasar domestik dengan meluncurkan berbagai produk seperti portal e-commerce dan laman agregasi berita. WSJ melakukan survei informal atas perusahaan start-up papan atas berdasarkan wawancara dengan pemerhati serta investor di bidang teknologi. Sejumlah perusahaan dimasukkan ke dalam daftar karena mampu menyiasati problem pendanaan. Sebagian perusahaan yang lain memiliki potensi menarik pengguna serta penanam modal baru di masa mendatang.
1. Kaskus
Ide di balik pendirian Kaskus amat sederhana: komunitas online yang disesaki forum dan iklan baris. Diluncurkan oleh tiga mahasiswa Indonesia yang tengah menimba ilmu di Amerika Serikat (AS) saat mereka kangen rumah serta ingin menciptakan komunitas bagi pelajar Indonesia di AS. Kaskus lolos dari bubble yang mendera bisnis dotcom serta gesekan dari berbagai pemain baru.
Kaskus termasuk satu dari 10 situs yang paling sering dikunjungi di Indonesia dengan lebih dari dua juta anggota. Kaskus mampu membuat betah pelanggannya dengan menawarkan forum jual-beli yang tercatat memiliki traffic tertinggi di tanah air, bersaing dengan situs popular lainnya seperti Facebook. Situs ini bekerja sama dengan Unicef dalam mengampanyekan isu-isu anak seperti gizi, pendidikan, dan sosialisasi hak-hak anak.
Pada 2011, Kaskus bermitra dengan Global Digital Prima Venture, firma venture capital yang dikepalai bos Grup Djarum, miliuner Martin B. Hartono. Kaskus berencana memperluas pasar dengan meluncurkan KasPay atau sistem pembayaran online, serta plat form iklan KasAd.
2. Blibli
Diluncurkan pada 2011, Blibli tercatat sebagai situs e-commerce termuda di Indonesia. Toko maya itu menjual segala jenis barang dari BlackBerry hingga layanan TV berlangganan atau tiket konser dan sepeda motor. Hiruk pikuk transaksi didalamnya cukup membuatnya dijuluki Amazon.com versi Indonesia. Blibli lebih menitikberatkan kepada hal-ihwal teknologi. Tak seperti banyak situs di Nusantara yang tak dipersenjatai sistem pembayaran yang aman, Blibli menerima Visa atau Mastercard dan dirancang mendapatkan persetujuan serta jaminan keamanan dari VeriSign, perusaan autentifikasi layanan yang berbasis di AS.
Perusahaan start-up itu dimiliki oleh PT Global Digital Niaga, anak perusahaan Grup Djarum dan Bank Central Asia (BCA), yang memungkinkannya tak kehabisan dana. Alhasil, merek-merek ternama seperti Cartier, Harley Davidson dan Phillips, kepincut. Demi memadukan media sosial dengan pengalaman belanja online, situs itu menampilkan kolom “Our Experts” dengan para penulis yang dilabeli “Miss Stylish” dan “Mr. Gadget.” Keduanya berfungsi sebagai kurator yang memilih barang-barang sesuai dengan reaksi pasar menyangkut tren terbaru, review telepon seluler, dan komputer. Situs itu dikunjungi sekitar 30 ribu orang per hari dan memiliki keterikatan kuat dengan perbankan serta perusahaan telekomunikasi. Keistimewaan situs ini juga pada kecepatan pengiriman barang. Contoh:pengiriman barang perdana iPhone 4S tiba satu jam setelah pemesanan.
3. Detik
Budiono Darsono dan Abdul Rahman, mantan wartawan majalah Tempo, mendirikan Detik, situs berita online pertama di Indonesia, pada 1998. Perlahan setelah diperkenalkan, Detik menduduki daftar 10 situs teratas yang paling sering didatangi setelah Google, Facebook, Twitter, dan situs populer lainnya. Dua tahun lalu, Detik mencetak penerimaan iklan sebesar US$14 juta. Setahun kemudian, Detik dibeli oleh Grup Para, konglomerasi yang menjangkau bidang usaha lain seperti hypermarket, perbankan, media, dan taman bermain di bawah kepemimpinan Chairul Tanjung, salah satu orang terkaya Indonesia. Akuisisi Detik senilai US$40 juta menjadi pembicaraan luas. Dengan besarnya nilai pembelian, situs itu bisa memompa lebih banyak uang demi menciptakan konten sendiri. Detik kini punya micro-site DetikTV, wadah bagi video berita.
4.   Barito Labs & Ice House
Satya Witoelar, Fajar Budiprasetyo, dan Daniel Armanto sudah bukan nama asing di lanskap start-up Indonesia. Mereka pendiri Koprol, aplikasi media sosial berbasis lokasi, versi lokal FourSquare. Koprol mencetak berita setelah Yahoo Inc membelinya pada 2010 dengan nilai yang tak disebutkan di muka umum. Namun, pada Juni 2012, Yahoo menjual Koprol dan mengembalikan merek dagang itu ke pendiri awalnya.
Satya, Fajar, dan Daniel tak berniat meninggalkan dunia start-up. Mereka kembali membeli Koprol di bawah bendera Barito Labs, start-up yang berfokus pada pembentukan dan pengembangan aplikasi mobile.
Trio ini juga mendirikan Ice House, sebuah start-up pengembangan perangkat lunak dengan dukungan keuangan dari firma investasi swasta, Pacific Technology Partners. Ice House bertujuan menarik talenta terbaik di bidang teknik yang dimiliki Indonesia demi memungkinkan desainer lain membangun kisah suksesnya.
Melonjaknya angka kelas menengah di tanah air memancing sebuah laman perjalanan bernama Valadoo menawarkan anggotanya berbagai paket wisata pilihan dengan tiket penerbangan dan hotel murah. Situs ini memperkenalkan tujuan wisata yang tengah populer di Indonesia seperti Solo, Raja Ampat, dan Bogor. Tujuh puluh lima persen tujuan wisata yang ditawarkan berada di Indonesia. Selain itu Valadoo menawarkan paket wisata ke lokasi favorit seperti Hong Kong dan Singapura.
Didirikan pada 2010 dengan bermodel pada Groupon, Valadoo menangkap perhatian WeGo, perusahaan pencari perjalanan, yang menyuntikkan modalnya dengan nominal rahasia pada Mei lalu. Iklan dan penjualan paket menjadi penyumbang terbesar pemasukan perusahaan.
Traffic di situs itu meningkat nyaris 50% di paruh pertama tahun ini, kata Valadoo, dengan lebih dari 160.000 pengunjung di kuartal kedua 2012. Situs itu juga membukukan peningkatan penjualan 500% dalam tiga bulan terakhir. Mereka akan memanfaatkan suntikan dana dari WeGo untuk memperbanyak tawaran mereka, termasuk blog travel yang memberikan info mengenai tempat-tempat liburan akhir pekan.
Banyak raksasa Internet dunia berjuang keras menemukan cara mendulang uang dari para pemakai Internet di tanah air. Harpoen—aplikasi iPhone menjadikan Indonesia sebagai laboratorium percobaan sebelum akhirnya mengglobal. Mereka memilih Asia Tenggara ketimbang Palo Alto, California, untuk memantapkan produknya.
Dipelopori oleh seorang warga AS yang tinggal di Jakarta, aplikasi sosial berbasis lokasi itu memberi ruang bagi para pengguna pengunjung bar, restoran, serta lokasi lain untuk meninggalkan komentar, foto dan video di situs itu. Pengguna lain pada gilirannya dapat mengetahui pengunjung sebelumnya dari tempat-tempat itu serta menerima rekomendasi dari mereka. Penggila Internet di Jakarta banyak memakai aplikasi itu untuk kepentingan apa pun, dari mengeluhkan kemacetan hingga menyarankan makanan kaki lima yang lezat. Desainernya kini berharap memperluas pasar ke Bandung, Yogyakarta, Bali, dan kota Indonesia lain menyusul Singapura, New York, Washington D.C., dan Buenos Aires dalam beberapa bulan mendatang.
Seperti Twitter dan Facebook, pendiri Harpoen berharap bisa menggaet banyak pengguna, dan ujung-ujungnya mengeruk pendapatan dari iklan. Aplikasi itu belum lagi menghasilkan duit. Namun, mereka akan segera meluncurkan versi Android dari aplikasi itu.
Dibentuk tahun 2009, TeknoUp menemukan ceruknya dengan menampilkan ulasan gadget dan berita teknologi bagi konsumen Indonesia. Menyasar para pengguna awal BlackBerry model terbaru atau produk-produk Apple, situs itu menjadi portal wajib bagi para pengguna untuk memperbaiki kinerja telepon seluler, kamera, dan komputer. Saat ini mereka meraih jutaan page views setiap bulannya.
Pada Maret 2011, TeknoUp menerima dana yang tak disebutkan jumlahnya dari venture capital Singapura, East Ventures. Tiga bulan kemudian mereka memutuskan memasuki lanskap e-commerce tanah air dengan membuka toko gadget online: TeknoUp Store. Toko itu tak menerima pembayaran melalui MasterCard atau Visa dan tak mendapatkan verifikasi VeriSign. Namun, situs itu mungkin mampu merengkuh jutaan page views dalam beberapa bulan ke depan.
Menyusul matinya majalah TimeOut pada 2011—setelah terbit selama tiga tahun—sejumlah penduduk ibu kota agaknya merasakan haus informasi panduan pusat perbelanjaan dan restoran baru serta info acara hiburan. Urbanesia, didirikan pada awal 2011, menawarkan city guide yang tak biasa yang memungkinkan penggunanya merekomendasikan tempat nongkrong favorit mereka serta layanan lain di seantero Jakarta. Lebih dari 250 ribu lokasi usaha terdaftar dalam situs itu, termasuk warung kaki lima, butik milik desainer muda, serta usaha tak resmi lain.
Pada awal tahun ini, Urbanesia dikagetkan dengan keputusan PT Kompas Cyber Media mengumumkan penanaman modal di situs itu dengan nilai yang tak diungkap ke publik. Urbanesia dan Kompas akan mengintegrasikan layanan mereka. Masuknya dana segar memungkinkan laman itu meluncurkan versi beta terbaru situs direktori sosial serta aplikasi mobile Urbanesia.
9. Ngomik
Ngomik adalah start-up yang mengincar kegilaan Asia pada komik serta telepon seluler. Bermitra dengan operator telekomunikasi raksasa tanah air, Ngomik menyediakan komik dalam format yang cocok untuk ponsel. Produknya beragam, dari karya anak bangsa hingga buatan Jepang, dari sekitar 3.000 komikus yang terdaftar. Situs itu menuai lebih dari tiga juta page views per bulan. Mereka mulai mengadakan sayembara komik online yang kadang didesain menerapkan utas iklan (advertising link-in) agar dana bisa terus masuk.
Dwarapala—yang berarti penjaga pintu dalam bahasa Sansekerta—adalah start-up yang baru muncul pada 2012. Dengan antarmuka yang memudahkan pengguna, situs itu tak menyulitkan toko yang punya kehadiran fisik untuk memajang barangnya secara online dengan menyediakan template. Pembelian domain tak lagi ruwet. Situs ini menawarkan panduan mengubah tampilan laman secara online. Fasilitas tracking pun tersedia. Selain itu, mereka juga memberikan saran untuk meningkatkan keterlibatan dengan pengguna, mendongkrak kunjungan, serta optimisasi mesin pencari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar